Manusia
merupakan makhluk sosial dimana dalam kehidupannya dituntut untuk selalu hidup
bermasyarakat. Hidup bermasyarakat memiliki keterkaitan akan hidup secara
bergantungan dengan orang lain. Harus disadari bahwa tak selamanya orang lain
dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan diri kita, karena pada hakikatnya orang
lain pun memiliki kebutuhan dan keinginan pada dirinya sendiri. Hidup bersosial
bukan berarti semua tentang kehidupan akan diri sendiri wajib diketahui oleh
orang lain.
Dalam
lingkup kecil kehidupan bersosial ada di dalam keluarga. Sejak lahir ke dunia,
seseorang pasti dihadapkan dengan orang lain. Orang lain itu adalah orang tua
kita. Orang tua kita mengasuh dan mendidik kita agar kita dapat tumbuh menjadi
manusia yang “sempurna”. Dalam hal ini sempurna dapat diartikan sebagai kondisi
kita yang tadinya belum bisa berjalan sendiri kemudian dilatih untuk bisa
berjalan, dilatih untuk berbicara yang benar, dilatih untuk makan dan minum
sendiri, hingga pada akhirnya kita dapat membedakan hal yang baik dan buruk dan
berfikir secara luas.
Sejak
saya dilahirkan oleh Mama saya, kurang lebih 25 tahun yang lalu, saya merasa bahwa
diri saya adalah orang yang paling beruntung. Kehidupan saya ke depannya amat
sangat terjamin dan menyenangkan. Saat itu saya tinggal serumah dengan Mama,
Papa, dan Nenek saya dalam rumah sederhana tapi nyaman. Saat itu segala
keinginan saya selalu dipenuhi. Saya disekolahkan di TK dan SD favorit yang ada
di sekitar rumah saya. Dan ketika berlanjut ke SMP dan SMA saya dibebaskan
untuk memilih sendiri sekolah favorit yang saya mau. Tak hanya itu, kehidupan
saya saat itu yang bisa dibilang serba berkecukupan membuat diri saya terbentuk
menjadi seseorang yang selalu bergantung dengan orang tua alias “manja”. Hingga
pada saat orang tua saya menyuruh saya untuk melanjutkan study ke luar kota membuat saya untuk berfikir panjang dan merengek
agar mereka tidak melakukan hal itu ke saya.
Percaya
atau tidak percaya, seiring berjalannya waktu semua keadaan pun menjadi
berbalik. Pada kenyataannya, saya yang awalnya tidak tertarik sama sekali untuk
melanjutkan study ke luar kota tiba-tiba
menjadi tertarik dan orang tua saya khsusunya Mama saya yang selalu menyuruh
dan memaksa saya untuk melanjutkan study
ke luar kota tiba-tiba menjadi ragu.
Suatu
ketika saat saya masih duduk di bangku SMA, tiba-tiba hati saya pun tergerak
untuk mendaftarkan diri melanjutkan
study ke Institut Pertanian Bogor dan
mengambil jurusan Agronomi dan Hortikultura a.k.a Pertanian. Psst..nekat banget
ini padahal saya belum ada diskusi dengan orang tua saya. Dan pada saat saya
selesai menyelesaikan segala administrasi, saya langsung memberitahukan kepada Mama saya
tentang hal ini. Awalnya yang saya kira Mama saya akan senang mendengar hal ini
namun kenyataannya Mama saya menjadi marah. Hmm kalo Papa saya sih santai saja
karena Papa selalu mendukung apa yang saya lakukan dengan catatan yang saya
lakukan bernilai positif dan tidak merugikan diri saya. Awalnya ragu dan tidak
yakin pada hal ini, karena Mama saya tidak mendukung apa yang saya lakukan dan
tentunya segala sesuatu yang baik itu kan atas dasar ridho dan doa dari orang
tua. Akan tetapi saya selalu berdoa dan mencoba optimis. Daaaan..jreeng benar saja keoptimisan
saya membuahkan hasil. Akhirnya saya lolos untuk masuk ke Perguruan Tinggi
Negeri yang saya daftarkan alias Institut
Pertanian Bogor. Alhamdulillaah sujud syukurr pada saat itu..
Saat itu
adalah kali pertama saya harus hidup jauh dari keluarga. Perasaan sedih pasti
ada tetapi saya selalu meyakinkan pada diri saya bahwa keputusan yang saya
ambil akan berpengaruh pada masa depan saya. Hingga menjelang hari
keberangkatan ke Bogor, saya selalu meyakinkan pada orang tua saya khususnya
Mama saya bahwa saya mampu untuk hidup mandiri meski saya tidak memiliki sanak
saudara di sekitar Jabodetabek. Keluarga saya pun akhirnya mengantarkan saya untuk
berangkat menuju Bogor. Dan setelah keluarga saya selesai dengan segala urusan
saya di Bogor, mereka pun pulang meninggalkan saya. Huaa..air mata saya dan
keluarga pun tidak terbendung. Untungnya saya tidak sendiri saat itu, saya
ditemani Nindya, teman satu SMA saya yang lolos di kampus yang sama.
Memasuki
bulan pertama dan kedua menjadi bulan yang amat suram bagi saya. Sepanjang hari
saya selalu kangen rumah, keluarga, dan ingin pulang. Sampai setiap malam saya
ditelepon oleh Mama saya dan saya selalu menangis dan bilang ingin pulaaaang.
Psstt..maklum anaknya cengeng.
Untung
dan untung lagi, saya mendapatkan banyak teman bahkan sudah saya anggap menjadi
sahabat dan saudara bagi diri saya saat ini. Mereka yang selalu peduli dan menghibur saya
dikala saya sedih dan ingin pulang. Hingga suatu ketika perasaan ingin pulang
pun seketika berubah menjadi tidak ingin pulang. Horeee betaaah di Bogor..lol
Banyak
sekali suka dan duka yang saya alami selama di Bogor. Sukanya adalah saya
memiliki banyak teman yang super super baik, berbagi dan bertukar cerita dengan
teman-teman dari berbagai daerah yang berbeda, mendapatkan ilmu dan pelajaran
baru yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan, makin ngerti hidup, makin
ngerti tentang tanggung jawab dan hidup sabar, melatih mental saya menjadi kuat,
belajar memanage waktu dengan baik dan
sebagainya.
Dukanya
adalah ketika saya sakit dan pernah mengalami kehilangan handphone saat di Kampus. Saya dituntut untuk megurusi segala
sesuatunya sendiri. Tak hanya itu, percaya atau tidak percaya bahkan saya
pernah merasakan keterpurukan dengan keuangan saya. Jatah saya per bulan yang
dikirim oleh Mama saya super pas-pasan, sedangkan banyak keperluan tak terduga
yang saya alami di Bogor. Hal itu membuat saya harus berputar otak agar saya bisa
tetap bertahan hidup di Bogor. Keputusan awal saya yang ingin sekali hidup
secara mandiri inilah yang pada akhirnya menuntut saya untuk bisa mencari
solusi dalam diri saya ketika saya sedang ada dalam masalah. Saya tidak mau
mengikutsertakan masalah yang saya alami ketika itu pada Mama saya, karena
saya tidak ingin Mama saya khawatir dengan keadaan dan kehidupan saya di Bogor.
Akhirnya saya pun berusaha untuk mendaftarkan beasiswa dan mendaftarkan menjadi asisten praktikum
beberapa mata kuliah yang ada di kampus saya. Dan keadaan pun memihak kepada
saya, saya mendapatkan beasiswa yang saya daftarkan dan saya diterima menjadi
asisten praktikum. Alhamdulillah lagiii...
Buat
saya pribadi perjalanan hidup yang #MemesonaItu adalah berani hidup mandiri. Perjalanan
hidup yang tidak mudah untuk saya jalani selama kurang lebih 4,5 tahun. Banyak
hal-hal yang dikorbankan dan diprioritaskan serta terjadi di luar dugaan. Pengalaman
hidup bagi saya yang sungguh luar biasa. Saya yakin sekali tidak semua orang mampu menjalani hidup mandiri jauh dari
keluarga di usia dini, usia yang masih terbilang muda menuju usia dewasa, usia
dimana seseorang masih memiliki karakter labil, usia yang harusnya seseorang
masih diperhatikan oleh orang tua dengan jarak dekat akan tetapi mereka dituntut
untuk mampu memanage kehidupannya
sendiri dan dituntut untuk bisa bertanggung jawab akan dirinya sendiri. Hal-hal
itulah yang akhirnya merubah hidup saya menjadi sedikit lebih baik, menjadi
lebih mengerti tentang tanggung jawab akan diri sendiri maupun kepada orang
lain, menjadi lebih menghargai sesama, dan menjadi seseorang yang lebih dewasa.
So...jangan
takut untuk hidup mandiri sejak dini. Karena dengan kamandirian, banyak banget
segudang pelajaran hidup yang akan kalian dapatkan dan membuat kalian bebas
mengekspresikan apa yang ingin kalian lakukan. Tentunya untuk hal-hal yang
positif ya demi masa depan kalian yang lebih baik dan cemerlang. Awalnya memang
terasa sangat berat sekali, akan tetapi percayalah bahwa kalian akan merasakan
hasilnya yang sungguh luar biasa.
Berani
hidup mandiri??? Hmmm....siapa takut :)
Regards,
Mei Lianti Arista
Regards,
Mei Lianti Arista

