#MemesonaItu

Minggu, 09 April 2017

#MemesonaItu Berani Hidup Mandiri


Manusia merupakan makhluk sosial dimana dalam kehidupannya dituntut untuk selalu hidup bermasyarakat. Hidup bermasyarakat memiliki keterkaitan akan hidup secara bergantungan dengan orang lain. Harus disadari bahwa tak selamanya orang lain dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan diri kita, karena pada hakikatnya orang lain pun memiliki kebutuhan dan keinginan pada dirinya sendiri. Hidup bersosial bukan berarti semua tentang kehidupan akan diri sendiri wajib diketahui oleh orang lain.

Dalam lingkup kecil kehidupan bersosial ada di dalam keluarga. Sejak lahir ke dunia, seseorang pasti dihadapkan dengan orang lain. Orang lain itu adalah orang tua kita. Orang tua kita mengasuh dan mendidik kita agar kita dapat tumbuh menjadi manusia yang “sempurna”. Dalam hal ini sempurna dapat diartikan sebagai kondisi kita yang tadinya belum bisa berjalan sendiri kemudian dilatih untuk bisa berjalan, dilatih untuk berbicara yang benar, dilatih untuk makan dan minum sendiri, hingga pada akhirnya kita dapat membedakan hal yang baik dan buruk dan berfikir secara luas.

Sejak saya dilahirkan oleh Mama saya, kurang lebih 25 tahun yang lalu, saya merasa bahwa diri saya adalah orang yang paling beruntung. Kehidupan saya ke depannya amat sangat terjamin dan menyenangkan. Saat itu saya tinggal serumah dengan Mama, Papa, dan Nenek saya dalam rumah sederhana tapi nyaman. Saat itu segala keinginan saya selalu dipenuhi. Saya disekolahkan di TK dan SD favorit yang ada di sekitar rumah saya. Dan ketika berlanjut ke SMP dan SMA saya dibebaskan untuk memilih sendiri sekolah favorit yang saya mau. Tak hanya itu, kehidupan saya saat itu yang bisa dibilang serba berkecukupan membuat diri saya terbentuk menjadi seseorang yang selalu bergantung dengan orang tua alias “manja”. Hingga pada saat orang tua saya menyuruh saya untuk melanjutkan study ke luar kota membuat saya untuk berfikir panjang dan merengek agar mereka tidak melakukan hal itu ke saya.

Percaya atau tidak percaya, seiring berjalannya waktu semua keadaan pun menjadi berbalik. Pada kenyataannya, saya yang awalnya tidak tertarik sama sekali untuk melanjutkan study ke luar kota tiba-tiba menjadi tertarik dan orang tua saya khsusunya Mama saya yang selalu menyuruh dan memaksa saya untuk melanjutkan study ke luar kota tiba-tiba menjadi ragu.

Suatu ketika saat saya masih duduk di bangku SMA, tiba-tiba hati saya pun tergerak untuk mendaftarkan diri melanjutkan study ke Institut Pertanian Bogor dan mengambil jurusan Agronomi dan Hortikultura a.k.a Pertanian. Psst..nekat banget ini padahal saya belum ada diskusi dengan orang tua saya. Dan pada saat saya selesai menyelesaikan segala administrasi, saya langsung memberitahukan kepada Mama saya tentang hal ini. Awalnya yang saya kira Mama saya akan senang mendengar hal ini namun kenyataannya Mama saya menjadi marah. Hmm kalo Papa saya sih santai saja karena Papa selalu mendukung apa yang saya lakukan dengan catatan yang saya lakukan bernilai positif dan tidak merugikan diri saya. Awalnya ragu dan tidak yakin pada hal ini, karena Mama saya tidak mendukung apa yang saya lakukan dan tentunya segala sesuatu yang baik itu kan atas dasar ridho dan doa dari orang tua. Akan tetapi saya selalu berdoa dan mencoba optimis. Daaaan..jreeng benar saja keoptimisan saya membuahkan hasil. Akhirnya saya lolos untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang saya daftarkan alias Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillaah sujud syukurr pada saat itu..

Saat itu adalah kali pertama saya harus hidup jauh dari keluarga. Perasaan sedih pasti ada tetapi saya selalu meyakinkan pada diri saya bahwa keputusan yang saya ambil akan berpengaruh pada masa depan saya. Hingga menjelang hari keberangkatan ke Bogor, saya selalu meyakinkan pada orang tua saya khususnya Mama saya bahwa saya mampu untuk hidup mandiri meski saya tidak memiliki sanak saudara di sekitar Jabodetabek. Keluarga saya pun akhirnya mengantarkan saya untuk berangkat menuju Bogor. Dan setelah keluarga saya selesai dengan segala urusan saya di Bogor, mereka pun pulang meninggalkan saya. Huaa..air mata saya dan keluarga pun tidak terbendung. Untungnya saya tidak sendiri saat itu, saya ditemani Nindya, teman satu SMA saya yang lolos di kampus yang sama.

Memasuki bulan pertama dan kedua menjadi bulan yang amat suram bagi saya. Sepanjang hari saya selalu kangen rumah, keluarga, dan ingin pulang. Sampai setiap malam saya ditelepon oleh Mama saya dan saya selalu menangis dan bilang ingin pulaaaang. Psstt..maklum anaknya cengeng. 

Untung dan untung lagi, saya mendapatkan banyak teman bahkan sudah saya anggap menjadi sahabat dan saudara bagi diri saya saat ini. Mereka yang selalu peduli dan menghibur saya dikala saya sedih dan ingin pulang. Hingga suatu ketika perasaan ingin pulang pun seketika berubah menjadi tidak ingin pulang. Horeee betaaah di Bogor..lol

Banyak sekali suka dan duka yang saya alami selama di Bogor. Sukanya adalah saya memiliki banyak teman yang super super baik, berbagi dan bertukar cerita dengan teman-teman dari berbagai daerah yang berbeda, mendapatkan ilmu dan pelajaran baru yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan, makin ngerti hidup, makin ngerti tentang tanggung jawab dan hidup sabar, melatih mental saya menjadi kuat, belajar memanage waktu dengan baik dan sebagainya.

Dukanya adalah ketika saya sakit dan pernah mengalami kehilangan handphone saat di Kampus. Saya dituntut untuk megurusi segala sesuatunya sendiri. Tak hanya itu, percaya atau tidak percaya bahkan saya pernah merasakan keterpurukan dengan keuangan saya. Jatah saya per bulan yang dikirim oleh Mama saya super pas-pasan, sedangkan banyak keperluan tak terduga yang saya alami di Bogor. Hal itu membuat saya harus berputar otak agar saya bisa tetap bertahan hidup di Bogor. Keputusan awal saya yang ingin sekali hidup secara mandiri inilah yang pada akhirnya menuntut saya untuk bisa mencari solusi dalam diri saya ketika saya sedang ada dalam masalah. Saya tidak mau mengikutsertakan masalah yang saya alami ketika itu pada Mama saya, karena saya tidak ingin Mama saya khawatir dengan keadaan dan kehidupan saya di Bogor. Akhirnya saya pun berusaha untuk mendaftarkan beasiswa  dan mendaftarkan menjadi asisten praktikum beberapa mata kuliah yang ada di kampus saya. Dan keadaan pun memihak kepada saya, saya mendapatkan beasiswa yang saya daftarkan dan saya diterima menjadi asisten praktikum. Alhamdulillah lagiii...

Buat saya pribadi perjalanan hidup yang #MemesonaItu adalah berani hidup mandiri. Perjalanan hidup yang tidak mudah untuk saya jalani selama kurang lebih 4,5 tahun. Banyak hal-hal yang dikorbankan dan diprioritaskan serta terjadi di luar dugaan. Pengalaman hidup bagi saya yang sungguh luar biasa. Saya yakin sekali tidak semua orang mampu menjalani hidup mandiri jauh dari keluarga di usia dini, usia yang masih terbilang muda menuju usia dewasa, usia dimana seseorang masih memiliki karakter labil, usia yang harusnya seseorang masih diperhatikan oleh orang tua dengan jarak dekat akan tetapi mereka dituntut untuk mampu memanage kehidupannya sendiri dan dituntut untuk bisa bertanggung jawab akan dirinya sendiri. Hal-hal itulah yang akhirnya merubah hidup saya menjadi sedikit lebih baik, menjadi lebih mengerti tentang tanggung jawab akan diri sendiri maupun kepada orang lain, menjadi lebih menghargai sesama, dan menjadi seseorang yang lebih dewasa.

So...jangan takut untuk hidup mandiri sejak dini. Karena dengan kamandirian, banyak banget segudang pelajaran hidup yang akan kalian dapatkan dan membuat kalian bebas mengekspresikan apa yang ingin kalian lakukan. Tentunya untuk hal-hal yang positif ya demi masa depan kalian yang lebih baik dan cemerlang. Awalnya memang terasa sangat berat sekali, akan tetapi percayalah bahwa kalian akan merasakan hasilnya yang sungguh luar biasa.

Berani hidup mandiri??? Hmmm....siapa takut :) 


Regards,

Mei Lianti Arista

#MemesonaItu


#MemesonaItu




Rabu, 29 Maret 2017

#MemesonaItu Kesederhanaan, Kecerdasan, dan Kejujuran



Era Globalisasi berkembang sangat pesat di Indonesia pada saat ini. Era Globalisasi erat hubungannya dengan penggunaan social media guna menjalin hubungan kerjasama antar seluruh dunia. Hubungan kerjasama yang dilakukan salah satunya ada di bidang fashion. Fashion antara kebudayaan barat dan timur jelas sangat berbeda / berlawanan. Hal ini tentu menjadi perhatian banyak orang termasuk saya untuk tidak terpengaruh dengan kebudayaan orang luar dan bisa menggunakan social media secara bijak.

Hadirnya social media tentu sangat berpengaruh pada gaya hidup seseorang. Tidak jarang orang memilki gadget smartphone pada saat ini dan bisa dibilang gadget smartphone kini sudah menjadi kebutuhan wajib yang harus dimiliki bagi setiap orang, baik dari kalangan menengah ke atas maupun menengah ke bawah, baik dari kalangan muda maupun kalangan dewasa, sehingga keberadaan social media pun kini sangat mudah sekali untuk diakses.

Berbicara mengenai social media, umumnya kalangan muda lebih banyak berperan aktif di dalamnya termasuk saya. Biasanya mereka aktif mencari refrensi tentang apa saja yang sedang hip saat ini dan mereka ingin sekali tampil up to date guna memesona banyak orang. Tak hanya itu, biasanya mereka juga terobsesi dengan gaya hidup para idolanya sehingga mereka ingin memiliki produk-produk yang sama dan meniru gaya hidupnya agar terlihat memesona banyak orang layaknya idola mereka. Psstt…pernakah kalian berfikir bahwa idola yang kalian dambakan penampilannya adalah berasal dari kalangan menengah ke atas dan memiliki budget yang tinggi, sedangkan kalian yang misalnya uang jajan saja masih diberi dari orang tua atau kalian sudah bekerja namun berpenghasilan pas-pasan. Untuk tampil #MemesonaItu tidak hanya sebatas itu saja kok, masih banyak cara lain.

Menurut saya #MemesonaItu tidak hanya melulu tentang kemewahan, barang-barang branded, gaya hidup yang up to date dan meniru gaya hidup orang lain. #MemesonaItu juga tidak hanya dinilai dari segi fisik atau penampilan luar saja, apalagi jika kalian harus memaksa diri kalian untuk berpenampilan seperti orang lain. #MemesonaItu adalah tampil menjadi diri sendiri secara sederhana namun dapat memberi kesan yang positif bagi setiap orang yang melihatnya. Dengan menjadi diri sendiri, kalian lebih mengenali diri kalian sendiri dan dengan mudah mengexplore gaya kepribadian yang cocok untuk kalian bisa interpretasikan kepada orang lain sehingga kepribadian kalian bisa dinilai oleh setiap orang yang melihatnya sebagai ciri khas. Semenarik apa pun gaya hidup idolamu namun jika kalian merasa tidak nyaman dengan penampilannya maka akan menjadi sia-sia karena bukannya menarik seperti idola yang kalian kagumkan melainkan akan terlihat tidak menarik. Karena setiap orang bahkan anak kembar pun memiliki karakter dan standar gaya hidup yang berbeda.

Seperti halnya saja saya yang kurang begitu suka menggunakan rok saat bekerja ke kantor, akan tetapi idola saya terlihat cantik dan memesona jika menggunakan rok. Kemudian pada suatu hari saya memaksaakan diri untuk menggunakan rok pada saat bekerja ke kantor, namun saya jadi merasa tidak nyaman dan menjadi risih karena tidak terbiasa menggunakan rok. Sadar atau tidak sadar saya yakin orang di sekitar saya pun akan menjadi tidak menarik untuk melihat penampilan saya karena ketidaknyamanan saya ketika menggunakan rok.

Mungkin saja ada sebagian orang yang menilai bahwa tampil sederhana adalah tampil biasa-biasa saja, tampil dengan mencirikan bahwa orang tersebut ada di kalangan bawah. Eitss…salah besar. Justru dengan berbekal penampilan yang sederhana kalian masih bisa mencari inspirasi dan mengexplore diri kalian menjadi sederhana yang memesona dan bernilai tinggi. Sehingga pada akhirnya kalian bisa menciptakan sesuatu yang baru nantinya. Caranya dengan apa? Yapss..dengan akal, akal yang cerdas.

#MemesonaItu selalu ada hubungannya dengan kecerdasan. Wanita yang cantik tidak akan terlihat memesona jika ia tidak memiliki kecerdasan. Mengapa begitu? Karena dengan berbekal kecerdasan artinya wanita itu memiliki ilmu, tau menampilkan sisi positif, selalu memperhatikan tutur kata yang santun, bisa membedakan yang baik dan buruk, bisa menempatkan diri, bisa dijadikan partner untuk menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Kecerdasan merupakan esensi paling utama bagi seseorang karena kecerdasan tumbuh dari dalam diri seseorang yang secara tidak sadar akan mempengaruhi karakter kepribadian seseorang sehingga hal itu akan membuat orang di sekitar menjadi memesona. Sedangkan penampilan luar hanya berpusat pada fisik yang hanya dapat dilihat oleh kasat mata saja dan masih bisa dimanipulasi. Kecerdasan juga bisa digunakan sebagai pedoman untuk memperluas ranah explore kalian tanpa membatasi dengan sesuatu yang membuat kalian menjadi tidak nyaman.

Tak cukup dengan itu, kecerdasan yang #MemesonaItu wajib dilandasi dengan nilai kejujuran. Mengapa? Karena semua sikap yang baik selalu bersumber pada kejujuran. Kepercayaan yang diberikan oleh seseorang tidaklah mudah untuk bisa didapat untuk kedua kalinya.

Jadi, jangan takut untuk selalu tampil menjadi diri sendiri. Yakini pada diri kalian bahwa kesederhanaan, kecerdasan, dan kejujuran merupakan hal penting yang wajib kalian miliki, karena ketiga hal tersebut sangatlah berketerkaitan. Sederhana dan cerdas namun jika kalian tidak memiliki nilai kejujuran maka akan menjadi sia-sia. Karena nilai kejujuran merupakan kunci utama bagi terciptanya keharmonisan antar sesama. Kejujuran itu tidak pernah merugikan dan saya yakin dengan nilai kejujuran yang diterapkan dalam diri seseorang akan memesona dan menjadi virus baik bagi orang-orang sekitar. Yuk terapkan dan sebarkan virus kesederhanaan, kecerdasan, serta kejujuran untuk diri kalian dan orang lain mulai dari sekarang J

Kalo menurut kalian, #MemesonaItu apasih ? Share juga yuk pendapat kalian disini..

Oh iyaa tulisan ini saya ikutsertakan dalam blog kompetisi Pancarkan Pesonamu mengenai #MemesonaItu..

Thankyou for reading... 


Regards, 

Mei Lianti Arista


#MemesonaItu

#MemesonaItu


#MemesonaItu



Senin, 16 Januari 2017

Welcome To My Blog


Halloo Semuanya...

Yes the first post! Tapi tidak untuk pertama kalinya ngeblog. Sebelumnya aku pernah punya blog tapi ya gitu deh males males gk ada waktu buat nulisnya, pssst maklum anaknya labil. Setelah mengumpulkan niat lagi untuk menulis akhirnya aku memutuskan untuk bikin blog baru lagi (PS: berhubung blog yang lama lupa password). Semoga di tahun 2017 ini makin konsisten dengan menulisnya alias gk labil labil lagi, makin produktif, makin bisa memberikan info info yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain..

Oke, see you on my next post..!! 

Regards, 

Mei Lianti Arista